(Puisi)Mati

Mati
Saat yang datang pasti
Tak ada yang menanti
Apa masih ada hati ?

Datang tiba tiba
Terkadang terurai alamat
Camat harus sigap
Catimat harus kumpulkan pundi sabar

Tak kenal usia
Pasti, mati semua
Libas fatamorgana
Kehidupan adalah usia

(Camat = Calon Mati, Catimat = Calon diTinggal Mati)

Setan Sebelum Wafat

Bismillah,

Jangan sampai diri kita aman dari ketergelinciran, kesesatan, kekafiran, meski kita terus mempelajarinya untuk menjauhinya, mempelajari kebalikannya, mendakwahkannya, menasehatkannya. Mintalah selalu ketetapan hati. Ketika lapang maupun sempit. Sehat maupun sehat. Maupun menjelang wafat.

Ketika kita dalam keadaan sehat, mungkin godaan, rayuan untuk melakukan hal tersebut kecil. Namun, ketika maut menjemput, siapa dapat menjamin kita terus tetap di atas agama ini? Padahal, semua dihitung atas akhirnya?!

Ya, inilah diantara kisah ketsabatan para ulama, diatas kebenaran, dimasa menjelang kematiannya. Beliau adalah imam ahlis sunnah wal jama’ah, yang pernah disiksa dalam rangka mempertahankan agamanya ditengah bada fitnah kholqu qur’an (fitnah alqur’an adalah makhluq) padahal, al qur’an adalah kalamulloh, yang Alloh turunkan kepada KholilNya, Muhammad Shollallohu ‘alaihi wa sallam.

Diriwayatkan dari Abdillah, putra imam Ahmad bin Hanbal, ia berkata :
“Menjelang wafat ayahku, aku duduk di sisinya, aku membawa kain lap untuk kupakai mengelap wajahnya yang berkeringat, beliau pingsang, kemudian membuka matanya perlahan dan berkata sambil berisyarat “Tidak, sampai nanti”, beliau lakukan seperti ini dua kali, dan pada kali ketiga, kuberanikan diri bertanya kepadanya “Ayah ada apa ini, ucapanmu menjadi tidak jelas, saat ini engkau nampak berkeringat sampai kami mengira engkau telah tiada, engkau ulangi kata-kata “Tidak, tidak, sampai nanti””, beliau bertanya kepada ku “Anakku, kamu tidak tahu? ” kujawab “Tidak” kemudian kata beliau “Iblis laknatulloh berdiri disampingku, mengarahkan kuku-kukuny padaku dan berkata “Hay Ahmad, ikuti aku” Kukatakan padanya “Tidak, sampai nanti aku mati”””

Sumber Kisah : Pemandangan Sekarat, Ustadz Abu Hamzah Yusuf

Posted by Wordmobi

[Faedah] Pengumpul 3 keutamaan, Penuntut Ilmu

Maka, tidak bisa di pungkiri lagi, hal ini menjadi kabar gembira bagi mereka yang meniatkan belajarnya hanya untuk Alloh saja, dan mengikuti RosulNya sholawatulloh wasalaamuhu ‘alaih, serta mengangkat kebodohan dari dirnya serta orang lain. Karena belajar adalah ibadah, dan tidaklah ibadah di terima melainkan dengan ke ikhlasan dan kecocokan dengan apa yang ada pada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam.

Bismillah,

Di shohih muslim (1631) , Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda : “Bila anak Adam meninggal, maka terputuslah darinya seluruh amalannya, kecuali dari tiga perkara : Shodaqoh jariyah, Ilmu yang bermanfaat, dan anak sholih yang berdoa untuknya”

“Maka, bila seorang ‘Alim (yang mempunyai ilmu, pen)) mengajarkan kepada orang yang akan tegak dengannya (Penuntut ilmu, pen) setelahnya, maka dia telah mewariskan ilmu yang bermanfaat serta sedekah jariyah …. Dan orang orang yang di ajari, seperti anak anak mereka yang mendoakan kebaikan bagi mereka. Oleh karena itu, berkumpullah 3 hal ini pada orang tersebut, dengan mewariskan ilmu tersebut”, kata Ibnu Rojab Al Hanbaly menjelaskan hadits tersebut di risalahnya yang berjudul warotsatul anbiya syarh hadits abi ad darda (warisan para nabi, syarah hadits abu darda)

Maka, tidak bisa di pungkiri lagi, hal ini menjadi kabar gembira bagi mereka yang meniatkan belajarnya hanya untuk Alloh saja, dan mengikuti RosulNya sholawatulloh wasalaamuhu ‘alaih, serta mengangkat kebodohan dari dirnya serta orang lain. Karena belajar adalah ibadah, dan tidaklah ibadah di terima melainkan dengan ke ikhlasan dan kecocokan dengan apa yang ada pada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam.

Inilah yang dilakukan oleh para nabi dan juga penggantinya setelah mereka meninggal. Lihatlah nama mereka masih dikenang sedangkan jasad mereka sudah tiada. Doa doa mengalir, dari lisan lisan penuntut ilmu. Dan manfaat yang banyak telah mereka tinggalkan bagi kita semua.

Maka, alasan apa lagi untuk malas dari menuntutnya. Penuntut ilmu mendapatkan 3 keutamaan sekaligus ketika dia sudah tiada. Akan tetapi, malas itu ada karena tidak ada dorongan dari dirinya untuk melakukan hal tersebut, lalai dari apa yang di janjikan oleh Alloh baginya. Bila tidak, maka tidak ada alasan lagi untuk bermalasan.

Ya Alloh, tidak ada yang melemahkan hambaMu dari melakukan perjalanan untuk mendapat ridlomu melainkan setan, baik dari golongan jin dan manusia, maka, kuatkanlah hamba yang lemah ini untuk berjalan, dan mereka yang juga menempuh jalan tersebut. Aamiin