(Puisi) Jalan

Jarak perjalanan tak ada yang tahu
Namun pertanggung jawaban suatu kepastian
Semua orang pasti mati, semuanya tahu
Sedangkan kesadaran berbuat, perkara yang rumit

Air sungai berjalan turuti aliran
Pencari kebenaran pasti dapatkan kebenaran
Pencari kesesatan pasti dapatkan kesesatan
Dan orang yang merasa santai dari perintah pastilah sudah sesat
Begitu pula yang biasa saja dengan dosa, hati sudahlah mati

Jalan, semua tahu. Pasti bercabang
Carilah surga niscaya kau kan dapatkan
Sertakan niat ikhlas pasti hanya untuk Alloh

Semarang 19 maret ’13

Menulis, Belajar dan Bermain

Bismillah,

Sebagaimana telah berlalu, dan kita sering mendengarkannya, waktu adalah sesuatu yang sangat berharga bagi manusia. Itu adalah nikmat yang Alloh berikan kepada hambaNya. Dalam nikmat tersebut terdapat ujian. Yah, tidaklah Alloh menurunkan suatu nikmat kecuali di dalamnya disertai ujian. Apakah kamu bisa memanfaatkannya dengan baik.

Telah berlalu pula, kisah imam At Thobroni dalam memanfaatkan waktunya untuk menulis artikel artikel. Beliau merupakan contoh yang baik untuk di contoh. Beliau telah berhasil memanage nikmat yang Alloh berikan (secara dzhohir/nampak), yakni waktunya. Betapa tidak? Waktunya di penuhi dengan manfaat untuk dirinya, umat, dan keluarganya. Selayaknya kita menirunya.

Banyak kisah kisah serupa. Para ulama islam memanage waktunya. Diantaranya dengan menulis. Diantara para blogger, sudah barang pasti tidak asing lagi dengan “Menulis”. Itu adalah pekerjaan sehari harinya( Kalau ia blogger sejati). Dia menuangkan pemikiran pemikirannya melalui tulisan. Menumpahkan rasa melalui tulisan. Tapi, tunggu dulu ! Stop di sini dulu pembahasan rajinnya menulis blogger sejati.

Ada statement “Habiskan waktumu untuk menulis”. Tidak salah memang. Namun, perlu di perhatikan. Tidak semua tulisan layak tuk di publish. Kadang juga tulisan butuh informasi yang akurat. Kadang tulisan butuh kecermatan jalan berpikir. Kadang… Dan kadang lain.

Bahkan JANGAN semua waktu luangmu kamu habiskan untuk menulis. Kenapa aku bilang jangan? Masih banyak perkara yang lebih layak kamu kerjakan di banding hanya menulis artikel artikel. Aku tegaskan disini, bukan berarti menulis tidak penting. Tapi masih banyak perkara yang seharusnya kita dulukan dalam kehidupan kita tanpa meniadakan menulis.

Ada kalanya waktu luang kita gunakan untuk mempelajari lebih dalam pelajaran kita. Kita berpikir sebagaimana guru berpikir. Kita berpikir bagaimana kita memahami pelajaran tersebut. Kita butuh baca. Kita selami bacaan bacaan kita. Tuliskan hal penting dalam buku tersendiri. Kita butuh pula tuk menghafal. Menghafal bukan perkara yang mudah. Memang, sebagian orang menganggapnya itu mudah. Tapi, seberapa lama hafalan itu mengendap di kepalamu?

Menulis itu bermanfaat. Namun dapat juga membahayakan. Atau minimal sia sia.

Menulis yang bermanfaat bisa bermanfaat untuk dunia saja. Bisa bermanfaat untuk akherat saja. Bisa bermanfaat untuk dunia akherat juga.

Menulis yang membahayakan juga begitu. Dunia saja. Akherat saja. Atau justrus Dunia Akherat. Kami berlindung kepada Alloh dari dua yang terakhir.

Pilih lah olehmu yang bermanfaat minimal akheratmu saja. Point plus bagimu bila kamu dapat memberikan manfaat duniawi, tanpa membahayakan dirimu. Hindari dari menulis yang sia sia. Karena itu merupakan kebagusan islamnya seseorang , sebagaimana yang di sebutkan dalam hadits.

Kawan, waktu itu terus berjalan. Jangan sampai ia menguasai kita dan kita tidak dapat apa apa darinya. Hindarkan diri dari penyesalan se dini mungkin. Dan setiap detik yang terlewat dari kita ini takkan kembali lagi. Rugi ! Sungguh rugi.

Kuasailah waktumu. Waktu adalah senjata bagimu. Kamu bisa bunuh diri dengannya. Atau kamu bisa mempertahankan diri dengannya. Sungguh merupakan suatu kecerobohan bila kamu menodongkan senjata ke kepalamu, dan kamu menekan pelatuknya.

Bermain, ada waktunya. Gunakan itu. Tapi persedikitlah. Jangan ikuti kemauan itu.

_____

Seorang yang sedang galau. Semangat tak kunjung datang. Ku tunggu dari kalian. Ucapan ucapan penuh semangat. Bakar kayu itu dengan tulisanmu. Tolonglah aku.

Baca yang ini, Aku rekomendasikan banget buat kalian. Semoga Bermanfaat :

Tips hilangin malas link1,link2

Manajemen Waktu Imam Thobari

Aku adalah Dunia

Sebuah Paksa

Menangis Karena Cinta

Menangis hanya karena cinta? Cih.. Masih banyak yang harus kamu tangisi di banding tangisanmu terhadap cinta.
Suatu kata yang tak dapat terdefinisikan maknanya. Karena saking luasnya cakupannya. Cinta.
Banyak orang yang tak segan segan menangis hanya karenanya. Waktu itu, orang itu di khianati oleh kekasihnya. Maka ia menangis sebab pengkhianatan.
Tak dapat di pungkiri, cinta adalah sebab terbesar tangisan seorang. Berbeda dengan perkataan di atas. Tersirat darinya bahwa menangis karenanya tercela.
Contoh terbesar, tangisan seorang ibu di sepertiga malam mendoakan putranya yang badung. Susah di atur. Membangkang. Tidak lain hanyalah karena cinta seorang ibu terhadap puteranya tersebut. Daan masih banyak contoh yang lain.
Terkait dengan statement di atas, ada sedikit keterkaitan antara pendapatku dengannya. Bahwa menanghs karena cinta itu tercela. Manakala cinta itu tidak halal untuk kita miliki.
Susah memang. Dan memang susah.

Dia (tidak) Selalu di Sampingmu

Kemarin, aku menemui sebuah status yang menggelitik. Hingga mengundangku tuk berkomentar di statusnya tersebut. Meskipun aku tahu apa yang di maksud olehnya. Berikut petikan akhir statusnya ‘ku ingin kau selalu berada di sampingku selamanya’. Status tersebut *mungkin* yang ia maksud adalah kekasihnya. Hahaha. Geli sendiri…
Nah, yang ku komentari adalah kata ‘selamanya’. Kalau tak selamanya, mungkin bisa. Tapi, mesti dia kudu pergi. So, tidak mungkin “selamanya” dan “selalu” ia dapat berada di sampingmu. Dia harus kerja, untuk memenuhi kebutuhanmu. Kalau belum kerja, ya belajar lah. Dia harus keluar untuk menjalani aktivitas rutin minimal 5 kali sehari untuk melaksanakan jamaah sholat fardlu. Daan masih banyaak lagi.
Meskipun aku tahu, maksudnya ialah “kesetiaan”. Maaf.

(Kenangan)Sebuah Surat, Tugas Tadrib Kelas 2 Mtw

Bismillah,

Aku ingin buka buka buku tulis latihan pas waktu aku masih di pondok. Dalam benakku, Bagaimana sih tulisanku dulu itu? Aku bisa apa sih? Memori apa saja sih yang masih tersimpan? Aku tambah pinter apa tambah gak pinter ya? 😉

Eh, ketika buka buka, kok ada yang menarik?

Suratku untuk Fariz Mustafa Kamal. Tapi ini memang untuk tidak di kirim. Tapi tak apa lah.

Dia, kalau tidak salah, waktu itu sudah pindah ke gresik. Kalau tidak salah juga, sudah setahun yang lalu ! Sebelum aku menulis surat ini.

Ku tuliskan surat itu, sebagai bentuk kangen ku ke dia. Ups, bisa kangen juga ya? Bisa donk. Sampai sekarang, belum pernah ketemu lagi. Gimana ya dia sekarang?

Berikut isi suratnya.

أخي فارز

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

أكتب إليك هذا الخطاب من السولو. وصلت المحطة السولو يوم الخميس الماضي. و أثناء خروجي من المحطة شاهدت السيارات و الحافلات و الجوالات و غير ذالك. ووجدت اليارة لأتصل إلي المعهد في انتظاري أمام المحطة

ركبت الحافلة. و في الطريق شاهدت البيوت الكثير و المزاريع الجميلة.

ثم وصلت الحافلة أمام المعهد اﻹمام البخاري و دخلت ثم أخذت البطاقة الإستئذانية في مكتبة البواب و ذهبت إلى السكان و استرحت استراحة هادئة.

سأتعلم في المعهد حتي أنجح. ثم سوف أتعلم في الجامعة اﻹسلامية في المدينة المنورة. إن شاء الله. و أرجو بزيارتك إلى هنا

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته

أخوك احفظ

في المعهد اﻹمام الباري

Keterangan :

Seperti yang sudah aku utarakan di atas, ini aku tulis ketika aku masih kelas 2 Mutawasithoh, setingkat 2 SMP. Waktu itu aku masih di Imam Bukhori. Dan waktu itu cita citaku untuk meneruskan belajar di Saudi. Terlebih di Jami’ah Islamiyah di Madinah. Cita cita itu berlanjut sampai aku lulus SMP ketika itu aku di Al Madinah, Grenjeng.

Namun, lama lama gyah juga ke inginan itu. Dan, semoga Alloh mengkabulkan cita citaku. Dan semga ini -pilihanku sekarang- lebih baik untukku, keluarga, dan ummat.

Allohumma Aamiiin,

Perhatian : Kalau tdak faham, afwan ya ga aku translate. Kalau mau mahamin isinya, silahkan di translet dulu lewat google translate atau yang selainnya.

Semarang , 12 Desember 2011

(Puisi) Buram

Mataku tak dapat melihatnya,

Sedangkan fikirku menerawang buramnya.

Dan hatiku merasa perihnya.

Benar,

Saat ini ku tak dapat melihatnya.

Fikirku menerawangnya.

Rasaku rindu, menusuk sakit.

Jauh jarak memisah.

Rasa itu masih ada.

Terluka, tak bisa menutup.

Dan terus menerawang,

Di kabut buram,

Rindu

Aku Mencari Semangat itu….

Bismillah,

Termasuk merupakan bencana bagi manusia, ketika dia mengetahui besarnya penyiaan dia terhadap perkara yang tak kan pernah ia raih kembali. Dia tidak merasa, bahwa itu merugikannya. Sebuah perkara….. Dan benar, manusia banyak yang terlalai.

Waktu. Kamu tak bisa meraihnya kembali yang telah kamu lewati. Dan dimasa seperti ini. Ketika sedang MALAS sedang melanda. Dan semangat itu menghilang.

Ku mencoba dan ku gagal lagi. Aku kurang memeliharanya. Dan aku benar benar merugi.

Bosan akan waktu. Tapi dia akan terus berputar. Tak akan berhenti. Dan kamu akan di mintai pertanggung jawaban.

Pikiran terus menerawang, menembus batas surya. Masa masa kenangan yang seharusnya bisa menutupnya. Tapi selalu saja ada. Masa yang akan datang, yang kita tak terbebankan untuk memikirkannya. Aku membebankan. Keluarlah ! Sedangkan masa sekarang…. Aku melupakannya.

Semangat itu hilang. Ruh itu pergi dan berlari. Sedangkan aku mengejarnya dengan jalan lambat. Aku SUDAH merasa KALAH..

Aku mencari semangat itu. Bantulah aku.