Kaedah 4 : Kaum Musyrik Sekarang Lebih Parah

Bismillah,

Semakin bertambahnya tahun menjauhi masa Rosululloh, semakin bertambahlah kesesatan dimana mana. Semakin kabur makna kebenaran. Semakin ulama ulama sesat menyesatkan manusia.

Pintu pintu ilmu sengaja ditutup. Umat islam tidak tahu menahu tentang dunianya, bahkan agamanya. Hingga karena itu, umat islam banyak yang terjatuh kedalam kesesatan, dan kedzoliman. Dan yang paling besar adalah kesyirikan kepada Alloh. Wal ‘iyaadzu billah.

Tidak hanya itu, karena itu pula, kesyirikan orang orang musyrik sekarang lebih parah dari pada kesyirikan orang orang musyrik pada zaman jahiliyyah. Dan ini akan dibahas syaikh pada kaedah yang terakhir. Wallohul musta’aan.

Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab berkata :

Kaedah keempat : Bahwasannya orang orang musyrik zaman sekarang lebih parah dari pada kaum musyrik terdahulu. Karena orang orang musyrik zaman dahulu memusyrikkan kepada Alloh dalam keadaan lapang, dan mengikhlaskan peribadatan dalam kesulitan. Adapun orang orang musrik zaman kita, kesyirikan mereka terus berlanjut di keadaan lapang dan sempit. Dan dalilnya firman Alloh ta’ala : Maka bila mereka naik kapal mereka berdoa kepada Alloh dengan memurnikan ketaatan kepadaNya. Maka apabila Alloh menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba tiba mereka kembali menyekutukan Alloh [Al Ankabut : 65]

Pensyarah berkata :

Kaedah keempat -dan ini adalah kaedah terakhir- : Bahwasannya kesyirikan orang orang yang berada di zaman kita lebih besar daripada kesyirikan orang orang terdahulu yang Nabi di utus kepada mereka.

Dan sebabnya jelas : Bahwasannya Alloh mengkabarkan bahwasannya oran gorang musyrik terdahulu memurnikan peribadatan bila perkara menyulitkan mereka. Maka mereka tidak berdoa kepada selain Alloh karena mereka mengetahui bahwasannya tidak ada yang dapat menyelamatkan dari kesulitan kesuali Alloh, sebagaimana firmanNya : “Dan apabila kamu ditimpa bahaya dilautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru melainkan Dia. Maka tatkala Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia adalah selualu tidak berterima kasih. “[Al Isro’ 67] Dan pada ayat yang lain “Dan apabila mereka dilamun ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru kepada Alloh dengan memurnikan ketaatan kepadaNya” yakni memurnikan doa hanya kepadaNya “maka ketika Alloh menyelamatkan mereka sampai di daratan, lalu sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus.” [Luqman 32] Dan pada ayat lain “Maka apabila Alloh menyelamatkan mereka sampai kedarat, tiba tiba mereka kembali menyekutukan Alloh” [Al Ankabut 65], Maka dari ayat ayat tersebut kita dapat mengetahui bahwasannya orang orang terdahulu menyekutukan Alloh dalam keadaan lapang. Mereka menyeru kepada patung patung, bebatuan, dan pepohonan.

Adapun bila mereka terjatuh dalam kesuliatan, dan mereka yakin akan binasa, mereka tidak menyeru kepada bebatuan, patung, ataupun pepohonan, atau para makhluk yang lainnya. Akan tetapi mereka menyeru kepada Alloh saja. Maka bila tidak ada yang dapat menyelamatkan dari kesusahan melainkan Alloh, maka bagaimana bisa yang selainNya diseru dalam keadaan lapang?

Adapun orang orang musyrik dizaman kita ini yang kesyirikan melanda ummat Nabi Muhammad -sholawatulloh wasalaamuhu ‘alaih- maka sungguh kesyirikan mereka itu selalu ada di saat lapang maupun sempit. Mereka tidak memurnikan peribadatan sedikitpun walaupun dalam keadaan sulit. Bahkan setiap kali perkara memberatkan mereka, bertambaahlah kesyirikan mereka dan seruan mereka kepada Hasan, Husain, dan Abdul Qodir, serta Ar Rifaa’i, dan selain mereka. Ini adalah perkara yang telah diketahui bersama. Dan disebutkan keajaiban keajaiban tentang mereka di lautan. Bahwasannya mereka bila perkara mempersusah mereka mereka memanggil nama nama para wali dan orang orang sholih, kemudian mereka meminta pertolongan kepada mereka dari selain Alloh. Karena para penyeru kepada kesesatan berkata kepada mereka : Kami menyelamatkan kalina dari lautan, maka bila perkara menimpa kalian, panggillah dangan nama nama kami, kami akan menyelamatkan kalian.

Sebagaimana yang diriwayatkan dari syaikh syaikh tarikat sufiyah, dan bacalah -bila kalian menghendaki- ((Thobaqoot Syi’rooni)) maka apa yang ada dalam buku tersebut sesuatu yang menjadikan kulit kulit bergetar dari apa yang dinamakan karomah para wali. Mereka menyelamatkan dari lautan. Mereka menjulurkan tangan mereka dan membawa perahu dan mengeluarkannya ke daratan, dan tangan mereka tidak sampai. Atau selainnya dari kebohongan dan khurofat mereka. Maka kita dapat mengetahui, bahwasannya kesyirikan mereka itu selalu dan selalu, di keadaan lapang dan sempit. Maka dari ini, kesyirikan mereka lebih besar dari kesyirikan orang orang terdahulu.

Atau, dari sisi lain, sebagaimana yang dikatakan penulis dalam ((Kasyfisy syubuhat)) “Bahwasannya orang orang terdahulu menyembah orang orang sholih dari malaikat dan nabi nabi dan para wali. Adapun mereka, mereka menyembah orang orang yang termasuk yang paling fajir dari manusia sedangkan mereka mengakui hal tersebut. Maka yang mereka namakan dengan Aqthoob dan Aghwats, mereka itu tidak sholat, tidak puasa, dan tidak membersihakan diri dari zina, liwat, dan perbuatan perbuatan yang menjijikkan. Karena mereka meyakini bahwasannya mereka tidak punya beban. Tidak ada bagi mereka halal dan harom. Adapun beban, hanya untuk orang orang awwam saja.

Dengan itu, mereka mengakui bahwasannya tuan tuan mereka itu tidak sholat dan berpuasa. Dan mereka itu tidak berlepas diri dari perbuatan fahisyah. Bersamaan dengan perbuatan mereka itu mereka menyembah orang orang tersebut, bahkan mereka menyembah dari orang orang yang paling fajir seperti Hallaj, ibnu Arobiy, Ar Rifa’iy, dan Badawi, dan selain dari mereka.

Dan sungguh Syaikh telah menyetir dalil bahwasannya orang orang musyrik jaman sekarang lebih besar dan lebih parah kesyirikannya daripada orang orang terdahulu. Karena orang orang terdahulu memurnikan peribadatan pada saat sempit dan berbuat kesyirikan pada saat lapang. Maka syaikh berdalil dengan firman Alloh “Maka bila mereka menaiki perahu mereka menyeru kepada Alloh dengan memurnikan agama kepadaNya” [Al Ankabut : 65]

Selesai perkataan Pensyarah..

Dan alhamdulillah, telah selesai terjemahan ini. Semoga Alloh menjadikan amal ini merupakan amalan yang ikhlas hanya kepadaNya.

Dan sholawat serta salam semoga tercurah kepada nabi kita shollallohu alaihi wasallam, para sahabat, dan pengikutnya yang ihsan sampai harikiamat kelak.

Wallohu a’lam

Advertisements

Kesan Dan Pesannya Kawan ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s