Kaedah 3 : Mereka Semua Musyrik (Bag 7)

Bismillah..

Allohu Akbar. Alloh Maha Besar. Sebaik baik manusia tidak akan terlepas dari kesalahan. Apalagi orang orang yang selain mereka? Bahkan akan lebih banyak kesalahan yang terperbuat.

Berkut ini akan kita baca bersama, terusan dari tulisan Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab. Dan kali ini adalah kisah tentang bahaya dari kebodohan. Walaupun mereka itu orang terbaik, ketika kebodohan telah mampir kepada dirinya, tidak akan terlepas dari kesalahan. Namum maha suci Alloh, yang telah menjaga mereka dari kesalahan yang lebih besar.

Penulis berkata :

Dan Hadits Abi Waqid Al Laitsi -semoga Alloh meridhoinya- berkata : Kami keluar bersama Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- ke Hunain, dan kami pada waktu itu adalah orang orang baru dari kekufuran. Dan orang orang Quraisy mempunyai pohon bidara yang mereka ber i’tikaf dan menggantungkan ke pohon tersebut senjata senjata mereka. Pohon tersebut dengan “Dzatu Anwat”. Maka kami melewati pohon bidara, kemudian kami berkata : Wahai Rosululloh, buatkan untuk kami Dzatu Anwat, sebagaimana mereka memiliki Dzatu Anwat…. (Al Hadits) [ HR Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Abi Hatim, Ibnu Hibban)

Syaikh Sholih bin Fauzan Al Fauzan berkata :

Dari Abi Waqid Al Laitsi – dan beliau termasuk dari yang orang orang yang baru masuk islam pada tahun ke 8 Hijriah-.

“Pohon tersebut dinamakan Dzatu Anwat” Dan Anwat bentuk banyak dari Nauth yaitu gantungan. Yakni pohon yang memiliki gantungan, mereka menggantungkan di pohon tersebut senjata senjara mereka dalam rangka meminta barokah darinya. Maka sebagian sahabat yang baru masuk islam dan belum tahu tauhid secara sempurna : Buatkan untuk kami Dzatu Anwat, sebagaimana mereka mempunyai Dzatu Anwat” Ini adalah bahaya taqlid dan merupakan bentuk tasyabbuh. Yaitu merupakan bahaya yang sangat besar. Maka setelah itu Rosululloh takjub dan berkata : Alloh Maha Besar 3x . Dan Ketika Rosululloh bilah takjub atas sesuatu atau mengingkatinya maka beliau selalu bertakbir, atau berkata “Maha Suci Alloh” dan mengulanginya.

“Apa yang kalian katakan -Demi Alloh- sebagaimana yang dikatakan oleh bani isroil kepada Musa “Buatkanlah untuk kami Tuhan sebagaimana mereka mempunyai Tuhan tuhan, Musa berkata : Sesungguhnya kalian adalah kaum yang jahil”[Al A’rof : 138]

.Ketika Musa dengan Bani Isrooil melampoi laut, dan Alloh telah menenggelamkan musuh mereka di laut tersebut dan saat itu mereka melihatnya, mereka melewati kaum yang beri’tikaf kepada patung patung mereka dari orang orang musyrikin, maka mereka berkata kepada Musa “Buatkan untuk kami Tuhan, sebagaimana mereka memiliki tuhan” Musa berkata “Sesungguhnya kalian adalah kaum yang jahil”  Kemudian Musa mengingkari mereka kemudian berkata “Sesungguhnya mereka akan dihancurkan oleh apa yang dianutnya” yakni Batil “Dan akan sia sia apa yang telah mereka kerjakan”  Karena merupakan kesyirikan “Musa berkata : apakah pantas aku mencari tuhan untukmu selain Alloh padahal dia telah melebihkan kalian atas segala ummat?”[ Al A’rof 138 -140]

Musa mengingkari mereka sebagaimana Nabi Muhammad juga mengingkari mereka. Akan tetapi yang meminta tersebut belum terjatuh kedalam kesyirikan. Maka Bani Isroil mengatakan perkataan ini tidak melakukan kesyirikan karena mereka tidak melakukannya. Begitu pula para sahabat, bila saja mereka menjadikan Dzatu Anwat sebagaimana yang orang musyrik melakukannya, mereka akan terjatuh kedalam kesyirikan. Akan tetapi Alloh menjaga mereka. Ketika nabi mereka melarang mereka, mereka tidak melakukanya. Dan mereka mengatakan perkataan ini karena kebodohan. Mereka tidak mengatakannya dengan sengaja. Kemudian ketika mereka mengetahui bahwasannya hal itu merupakan kesyirikan, mereka selesai dan tidak melakukannya. Bila saja mereka melakukannya, mereka benar benar telah memusyrikkan Alloh.

Maka syahid dari ayat : Bahwasannya ada orang yang menyembah pepohonan. Karena orang orang musyrik menjadikan dzatu anwat sebagai tempat i’tikaf, dan para sahabat yang ilmu belum menancap kepada hati hati mereka mencoba untuk meniru mereka bila saja Alloh tidak menjaga mereka dengan rosulNya.

Asy Syahid : Bahwasannya ada yang bertabarruk kepada pohon pohon dan beri’tikaf disisinya. I’tikaf maknanya : tinggal disisinya beberapa waktu dalam rangka mendekatkan diri kepadanya. Maka I’tikaf adalah : tinggal di sebuah tempat.

Maka hadits ini menunjukkan atas beberapa perkara yang agung :

Perkara pertama : Bahayanya bodoh terhadap tauhid. Maka jika seorang bodoh terhadap perkara tauhid akan lebih mudah jatuh kedalam kesyirikan dalam keadaan dia tidak mengerti. Dari sinilah wajib untuk mempelajari tauhid. dan mempelajari apa yang menjadi lawannya yaitu syirik agar manusia berada diatas ilmu, agar tidak di datangi dari kebodohannya. Apalagi bila manusia melihat orang yang melaksanakan perbuatan dan menganggap perkara tersebut benar karena bodohnya. Maka didalamnya terdapat : bahaya kebodohan, apalagi dalam masalah keyakinan.

Perkara kedua : Dalam hadits terdapat bahaya meniru niru orang musyrik. Dan meniru niru ini (tasyabbuh) kadang menghantarkan kepada kesyirikan. Rosululloh bersabda “Barangsiapa yang bertasyabbuh kepada suatu kaum, maka ia termasuk diantara mereka” [HR Abu Daud dan Ahmad]. Maka tidak boleh bertasyabbuh kepada orang musyrik.

Perkara ketiga : Bahwasannya meminta barokah kepada bebaruan dan pepohonan serta banguna merupakaan kesyirikan, walaupun tidak dinamakan sebagaimana layaknya. karena hal tersebut merupakan hal meminta barokah kepada selain Alloh dari bebatuan, pepohonan, dan bangunan dan selain itu. Dan ini jelas merupakan kesyirikan walaupun tidak dinamakan seperti nama syirik.

Selesai perkataan Syaikh….

Advertisements

Kesan Dan Pesannya Kawan ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s