Pilih yang SUDAH Jelas Manfaatnya !!

Bismillah,

Sebuah teguran yang halus telah termuat di dalam al qur’an untuk nabiNya -sholawatulloh wasalaamuhu ‘alaihi- ketika beliau lebih mendahulukan pemuka kaum dari pada seorang buta yang mengharapkan kepadanya pensucian di akhlaknya, yaitu dalam surat ‘abasa. Surat ke tiga dalam juz ‘amma.

Alloh berfirman : “dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling”

Kemudian Alloh menyebutkan sebabnya mengapa beliau -sholawatulloh wasalaamuhu ‘alaih- berpaling dengan firmanNya “Ketika datang kepadanya seorang yang buta”

Setelah itu, Alloh sebutkan tujuan mengapa seorang buta itu datang kepada beliau. Alloh berfirman: “Dan tahukah kamu (wahai Muhammad) barang kali ia ingin menyucikan dirinya”

Syaikh as sa’di di dalam tafsirnya : ” bersuci dari akhlak yang buruk, dan ingin bersifat dengan akhlak yang baik”

Akhlak disini mencakup seluruh akhlak. Baik itu akhlak kepada Robbul ‘aalamiin, yaitu dengan mantauhidkanNya dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun dalam peribadatan dan yang lainnya. Atau akhlak yang baik kepada rosulNya -sholawatulloh ‘alaihi wasalaamuh- dengan menganggapnya sebagai hamba dan rosulNya, serta tidak mengangkatnya dari derajatnya sebagaimana yang dilakukan oleh orang nasrani yang mengangkat isa bin maryam sebagai tuhan, kemudian mengikuti beliau -sholawatulloh wasalamuh alaihi- terhadap apa yang datang kepadanya dan lain sebagainya. Ataupun akhlak kepada makhluk Alloh yang lain dengan jujur amanah dan selainnya.

Kemudian Alloh menyebutkan alasan atau tujuan lain dengan datangnya orang buta tersebut. Alloh berfirman :”Atau ia ingin mengambil pelajaran yang dapat bermanfaat bagi dirinya”.

Rosululloh berpaling darinya -orang yang buta- menuju orang yang kaya, karena rosululloh beranggapan bahwasannya ketika orang yang kaya tersebut mendapatkan hidayah, maka orang orang yang dibalik orang kaya atau pemuka tersebut akan mudah untuk mendapat hidayah. Itu semua karena semangatnya beliau -sholawatulloh wasalaamuhu ‘alaihi- untuk memberi hidayah. Ingat, disini hanyalah hidayah irsyad dan bayah (penjelasan), sedangkan hidayah taufiq hanya milik Alloh semata.

Padahal, orang yang jelas membutuhkan malah di acuhkan oleh rosululloh. Awal surat ini adalah teguran yang halus dari Alloh kepada nabiNya. Kemudian bisa juga menjadi teguran bagi orang lain yang dalam keadaan sama dengan beliau.

Dalam awal awal surat ini terdapat kaedah yang agung, yang syaikh as Sa’di menyebutkan didalam tafsirnya. Beliau berkata : ” Tidak boleh meninggalkan perkara yang maklum (yang sudah diketahui) untuk amalan yang masih ada wahm di dalamnya (masih ada keraguan atau samar samar), dan juga tidak boleh untuk maslahat yang sudah haq adanya (sudah jelas) untuk masalah yang belum jelas”

Jelas, di ayat itu Rosululloh mendahulukan permasalah yang masih samar samar dengan lebih mendengar kepada orang kaya dengan anggapan seperti itu, karena besarnya keinginan beliau. Dan berpaling dari orang yang buta dan ia membutuhkan sekali yang ini adalah maslahat yang haq.

Kaedah ini bisa di aplikasikan ke berbagai permasalahan hidup. Tidak hanya khusus bagi Rosululloh Muhammad -sholawatulloh wasalamuhu ‘alaih-.

Wallohu a’lam

 

Tingkir, 7 Juli 2011

 

Advertisements

Kesan Dan Pesannya Kawan ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s