Waktu dan Imam Ath Thobari

Bismillah,

Sungguh waktu sangat berharga bagi setiap manusia. Dengan waktu manusia bisa hidup. Dengan waktu, pekerjaan demi pekerjaan di lewati. Dengan waktu, usia pun bertambah tua, dengan hakekat semakin berkurang waktu hidup di dunia.

Hingga, tak mengherankan bila Alloh bersumpah dengan waktu. Alloh berfirman :

والعصر

Demi waktu [Al Asr: 1]

Meski begitu, manusia sering terlupa dengannya. Hingga manusia banyak yang menghamburkan waktunya untuk sesuatu yang tak bermanfaat. Dan seterusnya dalam hidupnya, sehingga sesal diraihnya. Dan penyesalan tersebut takkan dapat mengembalikannya ke tempat semula yang ia sesalkan.

Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda : “Dua nikmat yang manusia banyak terlena darinya : Kesehatan dan waktu luang”

Nah kawan, karena sifat manusia yang lemah, dan kadang memperturutkan nafsu belaka. Kadang, dengan kisah semangat kembali membuncah. Izinkan aku untuk membagi kisah yang menakjubkan dari salah satu ulama kita. Imam Ath Thobari dalam membagi waktunya.

Al-Qadhi (hakim) Abu Bakar Ahmad bin Kamil asy-Syajari murid Ibnu Jarir sekaligus sahabatnya berkata, “Apabila telah selesai makan pagi Ibnu Jarir ath-Thabari tidur sebentar dengan pakaian berlengan pendek. Setelah bangun beliau mengerjakan shalat Zhuhur. Lalu menulis artikel hingga waktu Ashar tiba. Kemudian keluar untuk shalat Ashar. Selanjutnya, beliau duduk di majlis bersama orang-orang untuk mengajar sampai datang waktu Maghrib. Setelah itu mengajar fikih serta pelajaran-pelajaran lain sampai masuk shalat Isya’, baru beliau pulang ke rumah. Beliau pandai membagi waktu siang dan malamnya untuk kemaslahatan diri, agama dan sesama sebagaimana yang dikehendaki Allah Ta’ala.

Menurut al-Khatib al-Baghdadi, “Aku mendengar Samsami menuturkan bahwa Ibnu Jarir selama empat puluh tahun mampu menulis dalam setiap harinya sebanyak empat puluh halaman.”

Sementara itu menurut muridnya yang lain yakni al-Farghani menceritakan di dalam kitabnya yang terkenal dengan nama ash-Shilah, sebuah pengantar kitab mengenai Sejarah Ibnu Jarir, bahwa terdapat sekelompok murid Ibnu Jarir yang berusaha menghitung seberapa banyak karya yang dihasilkannya setiap hari. Sepanjang hidupnya beliau sibuk dengan tulis menulis dimulai sejak usia baligh sampai wafat yakni di usia 86 tahun. Kemudian mereka menghitung jumlah lembaran-lembaran itu. Dari penghitungan tersebut dapat diketahui bahwa pada setiap harinya beliau menulis kurang lebih 14 lembar. Jelas ini merupakan sebuah prestasi yang tidak mungkin diraih seorang manusia pun pada waktu itu kecuali berkat Inayah Allah semata.

Jika kita kalikan jumlah hari beliau menulis selama 72 tahun sedang setiap hari beliau menulis 14 lembar, maka jumlah karya Ibnu Jarir adalah 300.058 lembar. (Qimatuz Zaman Indal Ulama’, hal 43-44.)

Sumber: 99 Kisah Orang Shalih (alsofwah.or.id)

Artikel kisah : http://www.kisahmuslim.com/

Kawan, waktu itu, dunia tak seperti sekarang. Dahulu, tak ada yang namanya komputer yang memudahkan kita menulis. Printer yang tinggal mencetak. Akan tetapi, dengan semangatnya, imam At Thobari, ahli tafsir, dapat menulis sebanyak 14 lembar perhari. Dan membagi bagi waktunya untuk yang bermanfaat.

Kawan, sudahkah kita mencoba, tuk meniru meskipun secuil? Dengan memanfaatkan waktu untuk sesuatu yang lebih bermanfaat dari biasa.

Semoga kisah diatas bermanfaat. Aamiin.

Advertisements

5 comments on “Waktu dan Imam Ath Thobari

  1. Pingback: Menulis, Belajar dan Bermain « Muhammad Ihfazhillah

Kesan Dan Pesannya Kawan ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s