Kaca Cermin (Pulau kecil diantara 3 Benua -editted)

Jemariku dengan lihai sedang menekan tuts tuts keyboard yang masih terlalu kasar agak empuk yang baru saja aku beli. Mataku tertuju tajam di setiap huruf yang menempel di tuts tuts keyboard itu, dengan sesekali melihat ke layar monitor yang terang agak menyakitkan yang sedari tadi aku terus menatapnya. Sedangkan kepalaku, masih semprawut belum di tata. Dan punggungku terus membungkuk dan menekan pantatku yang sakit karena kelamaan duduk di kursi.
Sesekali aku menghadap ke belakang mengawasi apa ada orang di balikku yang sedang mengawasi gerak gerikku malam ini. Aku sedang khawatir ketahuan berbuat sesuatu, dan aku tak ingin orang lain mengetahui. Aku bukan pencuri, bukan pula mata mata. Tapi aku tetap takut.
Sesekali tanganku menggerakkan ‘tikus’ komputer yang berekor panjang, yang menancap di bagian kiri belakang CPU. Colokannya jauh dari sama dengan stop kontak yang sudah punya dua. Tapi lebih mirip kepada satu lubang hidung dengan beda penutupnya yang banyak bintik bintiknya. Aku tak menghitungnya. Malas.
Pointer itu, sesekali tergerak karena ulahku yang menggerakkan ‘tikus’ komputer itu. Aku menggerakkan kekanan, pointernya ikut. Aku kira, itu adalah kejunya. Tapi, aku tak yakin ‘masyak, keju ngikutin tikusnya?’
Klak Klik Kluk, yang penting tak ada suara Duaar!!!. Ledakan yang dasyat bagaikan ledakan Bom di nagasaki dan hirosima tahun 1945 silam yang meninggalkan jejak berbekas bagi warga jepang maupun indonesia. Jepang dengan keterpurukannya dan tangis sakit miris. Dan Indonesia dengan proklamasi kemerdekaannya.
Bukaan! Ini hanyalah suara klik saat tuts keyboard di tekan, atau saat ‘tikusnya’ di pencet.
Ingatanku melayang ke beberapa tahun silam, mengarungi samudra alam bawah sadar yang lebih besar dan lebih banyak daripada super komputer yang menyimpan sudah bertera tera byte data, menggunakan sayapnya dan mengepakkannya.
Saat aku kenal dengan PS, aku ketagihan sekali dan tidak akan ada yang bisa menghalangiku bermain hingga benar benar kocekku habis dan aku menderita kanker, oh malangnya.
Hingga suatu hari, aku kepergok masih bermain PS oleh orang tuaku. Aha, pukulan melayang tepat di pipiku. Perih, panas, dan suara Plok tapi tak seperti aplouse para penonton untuk peserta lomba. Bukan pula aplouse para rekan ketika keberhasilan mendera kita dengan mengepakkan kedua tangan mereka. Namun, tangan itu mendarat tepat mengenai pipiku, dan keras. Aku ingin meronta tak bisa. Aku ingin menangis malu. Aku ingin berteriak, takut.
Aku mengaduh kepada pohon yang ada di depanku. Melinangkan air mataku yang bukan berarti aku benar benar tak menangis.
“Hon, kamu tau nggak perasaanku?”
Pohon memang bisu, tapi aku yang sangat bodoh. Tak bisa aku membedakan tempat mengaduh dan pohon. Ya aku sedang bimbang.
Tiba tiba, tanganku sudah di pegang erat oleh orang tuaku.Tangan mungilku kemudian di tariknya dan aku mau tak mau harus mengikutinya dan berjalan tertatih tatih dan dengan sesenggukan tangisan yang belum jua reda dari diriku.
Aku diseret. Di paksa untuk pulang. Jangan kira kemudian aku dipaksa untuk kerja rodi, kerja paksa yang tak di gaji. Yang mangkir di bunuh. Dor!, suara tembakan itu menggelegar. Sayang sejuta sayang, aku belum pernah mendengarnya.
Ingatanku kemudian melepaskan pandangannya ke seluruh penjuru bumi. Jauh juga aku telah pergi. Kemudian segera mencari dahan untuk bertengger, dan tiba tiba, aku dikagetkan dengan jemari yang perlahan tapi pasti di ikuti oleh telapak tangan dan kemudian menepukku.
“Gung, kok ngelamun sih?”, gertak lekku, Ani. Suaranya tidak terlalu keras, tapi agak pelan. Dia bukan tipe pemarah, namun agak judes. Baik, tapi agak pelit. Tubuhnya langsing, dan tampak menjaga sekali tubuhnya. Anak ragil dari 6 bersaudara. Bapakku sendiri, anak ke dua dari 6 bersaudara. Sedangkan aku, anak pertama dari 6 Bersaudara.
“Eh, ng………ga………koo………k”, jawabku dengan senyuman yang agak ku paksakan.
“Lagi apasih?”
“Ni, lagi ngetik ngetik aja ga jelas”
“Lah ini HaPe ma kabelnya?”
“Ngga kok, cuman mau nancep nancepin ajah”
“Alah, ngaku aja deh kamu, mau konekkin toh? Dan ketemu belum caranya?”
“Iiih, apasih? Nggak kali……sotoy bener deh lek ani nih”
“Aduuh, ponaanku nii make main petak umpet. Yaudah nek ga mau di ajarin, met ngapain aja deh yang ga jelas”
Ngluyur, kemudian pergi dan menuju kedapur. Kebiasaan lekku ketika habis dari ruang tamu ukuran 4×4 ini. Mungkin disana ia sedang membuat teh, atau mungkin sedang ngeracik racik bumbu. Ah, entahlah. Tak menahu juga tak mengapa.
Ingatanku kini ku kurung, di dimensi kesialanku dan sakit perih ku ketika di marahin sama bapakku. Saat masa masa bandelku dan E G P ku.
Aku adalah aku. Aku tak perlu siapapun. Apa yang mereka kerjakan bukan urusanku. Yang mereka kerjakan pun bukan urusanku. Aku tak ingin membantu. Dan aku tak ingin di bantu. Semboyan kecilku yang membunuh rasa takutku hingga ke orangtuaku. Dan plasma nutfah dari pohon amarah orangtuaku ke aku. Aku nakal dan badung.
Lirik mataku masih berjalan mengikuti rel kata demi rel kata yang kemudian membentuk kalimat dan membentuk suatu makna yang aku sedikit sedikit paham. Bahasa bule yang aku ‘Bisa karena biasa’ menerka apa maksudnya setelah beberapa kali aku merusakkan komputer kerja bapakku ini.
Ah, ingatanku kembali terbang. Sangkarnya tak terlalu kuat untuk menahan gerak geriknya dan kemudian meroboh. Aku tak kuasa menahannya.
Rasa ingin tahuku yang begitu mengebu, memberikan bekas membekas di ranah otakku yang selama ini takkan kulupa. Kecerobohan berpangkal dari kebodohan atau tak kepahaman. Aku membuat replika laptop dan menghubungkannya ke listrik menggunakan kabel dan aku memegang tembaga kemudian aku berteriak. Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa Paaaaaaaak…………
Ingin kulepas namun ku tertarik. Aliran itu sudah menarikku bukan mementalkanku. Dan kini ku tertawa mengingatnya.
Bibirku merekakhkan senyumnya. Melebarkan bentuk bibirku yang sedikit oval membentuk bulan sabit yang sedang tersenyum.

Advertisements

2 comments on “Kaca Cermin (Pulau kecil diantara 3 Benua -editted)

Kesan Dan Pesannya Kawan ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s