Bagaikan Air Laut (Curhat dan Renungan)

Bismillah,

Sudah akhir akhir ini aku selalu di landa kemalasan yang sangat. Mulai dari sekolah yang tak terurusi, kesehatan, dan apasaja. Tak ingin aku merenungkan sesuatu ketika sudah malas begitu. Dan lebih parahnya, ketika malas untuk melakukan kewajibanku.

Aku sadar, apa yang aku lakukan ini salah (forive me ya Alloh). Kan tapi, aku tak bisa menghindarinya. Aku selalu saja kalau sidah seperti ini harus terlarut. Tak bisa tidak. Aku terus terlarut, hingga akhirnya penyesalan yang ku gapai.

“Seharusnya kalau kamu seperti ini, kembalilah kepada Alloh”, ujar ummi tadi pagi.

Hemmt, memang, semakin hari aku semakin jauh kepada Alloh. Imanku semakin menipis. Nafsuku, hingga menguasaiku. Aku telah kalah. Aku kalah.

Setelah itu, aku merasa tak dapat kembali. Aku ttelah kalah. Aku takkan di maafkan. Kalau aku begini terus, aku tak dapat masuk surga.

Ya Alloh, berilah hidayah, berilah rohmatMu ke kami semua.

Aku tahu, iman itu kadang kala naik, kadang kala menurun. Dan definisi dari iman sendiri ialah “Mengucapkan dengan lisan, Meyakini dengan hati, dan melakukan dengan anggota badan. Akan bertambah dengan melakukan ketaatan. Dan berkurang dengan melakukan kemaksiatan”, Lalu?

Aku masih belum bisa. Aku belum sanggup. Walau aku kini talah mengetahuinya. Aku kalah.

Allohu Robbiy,

Iman itu ada enam puluh sekian cabang atau tujuh puluh sekian cabang. Dan yang paling tinggi (cabangnya) ialah ucapan laa ilaa ha illallooh. Dan yang paling rendah cabangnya adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu itu, merupakan salah satu cabang dari iman.

Umn,

Allohu robby,

Semakin hari, mengapa diriku semakin jauh,

semakin hari,umurku semakin berkurang,

namun sebaliknya, dosaku semakin bertambah,

Layakkah aku mendapat ampunan,

Ketika ku harus terjerambab dan terus menerus dalam kubangan,

Layakkah aku dapatkan surga,

Ketika aku harus membangkang,

Aku lebih layak di nerakaMu, tapi ku takkan sanggup,

Aku lebih layak dengan adzabMu, namun aku takkan tahan.

Tapi, aku lebih butuh terhadap rahmatMu, untuk keselamatanku,

Alloh,

Engkau tuhan Ku, tuhan seluruh Alam,

Tak ada yang menandingiMu,

Engkau lebih tahu daripada daku,

Semut hitam pun di atas batu hitam di kegelapan malam, Engkau dapat melihatnya,

Namun daku takkan bisa,

Hati ini,

Bagaikan air laut,

Yang kan selalu pasang surut,

Ku harap rahmatMu,

Wahai tuhanku,

Rob Semesta Alam…

Advertisements

4 comments on “Bagaikan Air Laut (Curhat dan Renungan)

  1. Assalaamu’alaikum wr.wb, Ehfazella…

    Curahan Hati yang menjadi renungan buat semua menilik segala amalan yang dilakukan di dunia sebelum berhadap kepada Yang Maha Perkasa. Mudahan keinsafan selalu mengekori ke mana sahaja langkah destinasi.

    Terima kasih memberi pesan yang bermanfaat.
    Salam kenal dan salam mesra dari Sarikei, Sarawak.

Kesan Dan Pesannya Kawan ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s