(Warning) Korupsi Betah Tinggal

Bismillah,

Akhir akhir ini kacah perpolitikan indonesia diramakan dengan kasus mafia mafia. Mulai dari yang baru baru ini adalah tentang wisma atlet, lalu kasus gayus yang sampai saat ini belum juga di temukan ujungnya. Begitu pula kasus century yang masih sahaja melayang mengambang di Indonesia. Lalu, ada apa di balik semua ini?

Sebuah pertanyaan yang begitu mendasar dan terlebih di tengah keterpurukan ekonomi masyarakat indonesia saat ini, dimana harga barang barang melambung tinggi, dan kantong kecil masyarakat menjadi kering. Masih banyak gelandangan gelandangan yang tak punya rumah. Keluarga bertempat itnggal di tempat yang sangat tak layak. Akan tetapi, di balik itu para menteri (sebagiannnya) masih sibuk dengan uang uang korupsinya.

Dunia semakin sempit. Nafas di dada menyesak. Uraian air mata di sana sini. Pencuri berkeliaran. Perampok membunuh. Lantas, siapa yang akan bertanggung jawab?

Dunia semakin panas. Peluh keringat banting tulang para pekerja serabutan untuk memenuhi nafkah keluarganya tak kunjung mencukupi. Terlebih kasus kasus yang mencekik warga tak bersalah tapi di salahkan. Nurani yang seharusnya berkata.

Sekarang tak lagi nurani. Tapi uanglah yang berkata. Dengan uang, orang bisa masuk keluar penjara dengan gampangnya. Dengan uang, perusahaan lain rivalnya jatuh dan pecah berkeping. Dengan uang (kata mereka) dunia di dapat. Uanglah segalanya.

Uang sedang memimpin. Pimpinan tak lagi di dasari peratudan peraturan yang telah tertulis. Pimpinan tak lagi di dasari dengan Hati nurani. Pimpinan tak lagi di dasari dengan peri kemanusiaan. Pimpinan ada di tangan uang.

Korupsi merajalela.

Cukuplah kisah seorang pengembala dengan kholifah umar sebagai pembanding. Seorang pengembala yang derajatnya jauh di bawah para penguasa bangsa tapi rasa di awasinya sungguh tinggi.

Ketika umar menawarkan kepadanya untuk membeli gembalaannya. Apa yang dilakukan penggembala ini? Apakah ia akan menerima, dan di hadapannya ada uang. Apakah ia akan melakukan apa yang telah di lakukan para elit negri ini (sebagiannya)? Dia menjawab, “domba ini bukan milik saya”

Umar menawarkan kembali, “bisakan engaku bilang kalau domba domba ini di makan oleh serigala?”

Penggembala berpikir sejenak dan berkata “Yang punya ini hanyalah punya 2 mata, dia tak bisa melihat apa yang sekarang aku lihat dan engkau. Tapi di atas ada yang maha melihat. Tidakkah engkau takut kepadaNya?”

Terurailah cairan bening yang berasal dari mata Umar. Mengalirlah sungai kecil melewati pipinya. Sungguh menakjubkan apa yang dilakukan pengembala ini. Dia mengetahui hakikat Alloh. Dan dia tahu, bahwa Alloh maha melihat.

Ketakwaan. Merupakan unsur terpenting dari kehidupan seorang hamba. Bila tak ada unsur ketakwaan, kehidupan beribadah takkan terwujud. Makna dari takwa ialah : Mengerjakan seluruh amalan yang di perintah oleh Alloh dan RosulNya semampunya dan meninggalkan semua larangan Alloh dan rosulNya tanpa terkecuali . Disinilah unsur paling sulit. Meninggalkan semua yang dilarang.

Dan akhirnya, korupsi telah merambah ke berbagai bidang kehidupan. Yang berkorupsi ria tak hanya para elit papan atas. Siswa siswi sekolah, baik itu SD, SMP, SMA/MA, bahkan mahasiswa/i tak terlepas dari korupsi. Yakni mencontek. Didasari dengan tidak percanyanya dia dengan kemampuan dirinya, dan tidak memberdayakan kemampuan, mencontek menjadi pilihan.

Pantas saja, korupsi betah tinggal.

______________

Didasari keprihatinanku. Aku membatin, kapankah korupsi akan berakhir? Ini adalah tugas kita bersama. Memberantas korupsi. Mulai dari diri sendiri

Advertisements

Kesan Dan Pesannya Kawan ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s