Diary 6 : Perjalanan(hidup) yang tak sempat tertulis

Pernah, suatu kali (malah setiap kali) aku di ajak pergi sama orang tua ke suatu tempat, namun aku tidak menuliskannya. Bahkan, aku tak pernah ingin mengingatnya. Tapi, lama lama aku menjadi sadar, di setiap tempat yang kita lewati disana ada pelajaran.

Kadang, diary lebih cenderung sama curhat. Terlebih ketika hati sedang di rundung sedih.tapi, sekan ia lupa akan suatu hal, diary lebih dari sekedar tempat curhat.

Diary adalah tempatnya kita sharing semua hal. Perasaan, pengetahuan. Dan di sana tidak ada yang melarang kita. Kita bisa ngomong ngalor ngidul ke timur ke barat. Terserah kita. Kita tidak harus terpaku sama suatu pengaturan pun yang mengukung.

Dengan menulis diary, kita bisa meneliti. Terlebih, meneliti tentang kehidupan kita. Apa yang kurang, apa yang baik. Apa yang harus ditingkatkan, apa yang harus di kurangi.

Perjalanan hidup penuh misteri. Seperti perjalanan kita ke suatu tempat. Kalau kita mau mengamati, disana ada banyak sekali misteri yang sudah di pecahkan atau menunggu kita memecahkan. Yang sudah di ekspos, atau menunggu kita untuk mengekspos. Yang sudah di teliti atau yang menunggu kita untuk menelitinya.

Ketika kita belum menuliskannya, kita bisa mencoba untuk bernostalgia. Mencoba tuk mengingat ingat apa yang waktu itu terjadi. Kita bisa seperti menggerakkan film di pikiran kita. Kita bisa mengamati film itu, apa yang kita lakukan, apa yang kita temui, apa yang kita fikirkan, apa yang kiita rasakan.

Rasanya, semuanya harus di tuliskan? Diary adalah menulis, menulis mencerminkan isi hati seseorang (lha, kalau isi hatiku sekarang apa?). tapi, apakah semua harus dituliskan diatas kertas, atau di layar komputer yang kosong?

_________________

Fiuh, terlalu rumit. Aku masih bingung tentang apa yang sekarang sedang aku fikirkan. Aku ingin menulis tentang diar, tapi aku bingung apa yang aku omongkan. Serasa, tulisanku tidak tepat terhadap topik. Aku selalu melebar. Fikiranku tak ingin aku konsisten.

_________________

Perjalanan hidup yang tak sempat tertuliskan.

Pertamanya, aku hanya ingin menuliskan perjalananku. Dan, hampir di setiap perjalanan aku mendapatkan sesuatu yang baru, meskipun itu hanya pulang dan pergi ke sekolah. Aku terinspirasi dengan apa yang di lakukan Pak Ersis Warmansyah Abbas (EWA) di setiap kali artikelnya. Hampir setiap artikel di buatnya berseri. Terlebih kisahnya jalan jalan dan bepergiannya di suatu tempat. Di kisah itu, tak hanya cerita. Di sana ada sejumlah opini, ada sejumlah ilmu, ada pula buanyak sekali kata(ya iya lah).

Perjalanan yang diri kita di tuntut untuk belajar. Suatu hari, ketika harus mengerjakan tugas, Disana kita harus belajar. Bagaimana caranya kita dapat mengerjakan tugas itu. (mudeng?).

Yang penting menuliskan perjalanan, ada banyak hikmah. Selain kita mendapatkan yang kita fikirkan, kita juga dapat mendulang ke pembaca beberapa pelajaran yang mereka bisa membacanya.

Bahasa itu adalah kebiasaan, dan begitu pula dengan menulis. Ketika kita di tuntut untuk menulis, namun kita tak terbiasa, menulis akan menjadi beban. Serasa punggung kita di jejali gunung uhud. Berat sekali.

Ketika kita terbiasa menuliskan perjalaan, mungkin hidup kita akan semakin indah. Dengan mengetahui kekurangan kita menambahkannya. Upz, mengurangi kekurangan, kalau tak bisa, ya di tinggalkan. Dan menapaki kelebihan.

Bila kita melihat kepada kelemahan, kita hanya akan terfokus untuk memperbaiki kelemahan tanpa untuk berjuang lebih keras untuk menggapai yang kita inginkan. Tapi, ketika kita melihat kepada kelebihan, kita bisa melihat kepada kekurangan. Dengan melihat kedua duanya, kita akan lebih sedikit, dan mungkin akan banyak kemajuan.

And the writing is a habit. Like the language is habit.

_______________

Sebetulnya, aku ingin curhat, hihi. Kenapa aku melupakan kejadian 2 hari sebelum chreaphoria ya? Dan itulah yang terlupakan dalam benakku untuk segera menuliskannya. Padahal, ketika di sana, aku sangat ingin dengan keinginan yang membara untuk menuliskannya. Aku sudah memikirkan kemungkinan akan berseri seri tanpa tersenyum. He he.

Yah, yuk bernostalgia. Walaupun kejadian telah lama, semoga kita masih dapat mengingat detilnya.

Advertisements

2 comments on “Diary 6 : Perjalanan(hidup) yang tak sempat tertulis

Kesan Dan Pesannya Kawan ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s