Diary 5: Film Yang Di Tonton

Wii, jumpa lagi di acara…….. (Tebak sendiri ya J)

Pernah nonton film? Asyik donk. Lalu apa yang asyik? Aksi aksinya ituh loh, mau niru? Oh jangan. Tidak boleh itu, berbahaya! Lah ko? Iya donk, film kan hanyalah cerita fiksi. kalau di tembak kelihatannya beneran, tapi ndak bneran. Masyak mau membayar orang untuk di tembak? Pelanggaran HAM !

Film, entah itu action, entah itu roman, entah itu apa yang lainnya yang berujung ke entah berantah, memiliki keasyikan tersendiri. Walau kita tak bisa mendayagunakan daya khayal kita (lebih banyak). Kalau kita ingin mendayagunakan khayalan kita(lebih besar), ya baca novel. Tapi, butuh waktu (untuk membaca) yang ngga lama. Masih cepetan film (kalau memang cepet)

Novel, kita di tuntut untuk mengimajinasikan apa pun yang kita baca. Kita baca tapi ga ada gambar-gambarnya. Ga ada yang bergerak. Hanya tulisan. Semakin ke kiri, semakin puncak. Semakin kepuncak, kemudian kita berjalan ke ending. Semuanya hanya tulisan. Walaupun ada novel yang bergambar, tapikan ndak bisa gerak?. Beda ketika yang kita lihat film, kita bisa melihat, mendengar, serta menngimajinasikan apa yang kita lihat, apa yang kita dengar lebih mudah. Tapi, ketika di suruh membayangkan, malah susah. (iya ga sih?)

Film oh film,

Di dalam diary, film bisa di tuliskan loh. Tapi bukannya kebalik? Novel yang di tuliskan? Eiits, novel yang di filmkan. (Banyak novel yang telah di film kan, misalkan saja yang ga jauh jauh dari bumi pertiwi kita, Laskar Pelangi =Karya> Andrea Hinata)

He eh, ndak harus looh, kita menuliskan apa yang kita lihat kan merupakan latihan kita untuk belajar menulis. Tak apa menuliskan apa yang sudah di tuliskan oleh pembuat skeonario
(ups, susah banget nulisnya, atau bacanya?) Tapi, bukan plagiat loh ya, bedain. Kita disini belajar menulis. Bukan belajar berplagiat. Bolehkan?

Umn, bolehkan kita belajar menulis? Toh gratis. Menulis itu gratis kog. Modalnya cuman polpen sama kertas. (Dan juga pikiran, kalau pikiran ndak jalan, mana bisa kita menulis. Menulis butuh otak, yang akan menstrukturkan huruf huruf menjadi sebuah kata kata, yang akan menggabungkan kata kata menjadi sebuah kalimat, dan begitu seterusnya). Uhuy!

Yuuk, menulis menulis menulis.

Apa hubungannya menulis dengan diary? Dari awal (seri) kan aku bilang, diary itu latihan menulis (Ups maaf, buka berarti menggurui. Aga kesel sih, aku Tanya terus). Apa belum pernah? Kalau belum, berarti aku tegaskan di sini.

Diary itu curahan hati. Menulis juga curahan hati. Padahal diary itu di tulis. Jadi menulis diary untuk mencurahkan hati. Eh, isi hati bro (and sist, or mom or dad).

Menuliskan film, sama dengan mempraktekkan menulis, memahami, lalu menghafal dan melatih mental. Biar jadi penulis, kita butuh praktek. Dengan praktek kita jadi penulis. Apa saja bisa di tuliskan. Pertanyaan pun bisa di tuliskan. Yuuk menulis. Tak ada alasan tuk tidak menulis, karena pasti ada jalan menuju puncak.

So, Dari pada bête, nulis diary aja (kalau lagi ndak bête, juga di persilahkan untuk menulis)! 😉

Advertisements

6 comments on “Diary 5: Film Yang Di Tonton

  1. Film —-> nulis diary.

    Ada tuh film judulnya (kalo ga salah) The Princess Diary, The Vampire Diary. Sapa tau ntar ada film judulnya The blogger diary. hehehe
    Horaaaaayyy…!!! 😀

Kesan Dan Pesannya Kawan ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s